Renungan · Umum
Mengarah ke Masa Depan
Referensi Alkitab: Filipi 3:1-16; Yeremia 31:22-28
Tanggal pelayanan/ibadah: 27 Dec 2018

A.Prolog.
Selamat berjumpa di awal tahun 2019 segenap sidang jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus. Selamat hadir di tahun rahmat Tuhan, 2019 ini.
Meninggalkan sesuatu yang merupakan keharusan, tentu tidak mudah apalagi dengan semua kenangannya. Tetapi yang pasti, bahwa selalu ada hal yang patut untuk di renungkan dan dimaknai ulang. Sesuatu tersebut entahkah dalam bentuk kesedihan, kemalangan, kerugian, pun jika hal tersebut adalah keberuntungan, kesuksesan dan kebahagiaan. Melewati tahun 2018 yang diperkenankan oleh Sang Pemberi kehidupan, Allah Bapa di dalam nama Tuhan Yesus, kita patut persembahkan pujian, syukur dan hormat kepadaNya, karena bersama Dialah, maka seluruh perjalanan terlewati, meskipun tidak selalu seperti untaian doa dan harapan kita. Tetapi yang pasti bahwa perjalanan terlewati dengan iman bersama Gembala Agung, Yesus Kristus.
Perkenanan Tuhan kepada kita semua menyambut tahun 2019 ini, juga merupakan sebuah kepercayaan atas hidup kita melalui tugas dan tanggung jawab kita masing-masing, agar kita dapat hasilkan karya-karya terbaik untuk hormat dan kemuliaan Tuhan kita, Yesus Kristus.
B.Tafsiran/Pendalaman Teks.
*Mengawali kesaksian rasul Paulus tentang masa lalunya, yang sebagian kecil diuraikan dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, menarik bahwa ajakan untuk bersukacita dalam Tuhan merupakan kalimat awal dari pasal 3; “Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam Tuhan“ (lihat juga Fil 4:4). Aspek sukacita atau kegembiraan yang dalam, rasa senang; ( lawan dari kata dukacita atau kesedihan yang dalam) merupakan satu bagian dari ciri/identitas orang yg percaya kepada Yesus Kristus, entahkah kita selaku pribadi, keluarga maupun persekutuan. Sukacita dalam bahasa Ibrani “Sameakh“ ; dan bahasa Yunani “Khara“ adalah kualitas hidup yang diberikan oleh Tuhan, yang membentuk watak seseorang (band. Mz 16:11 ; Roma 15:13; Gal.5:22). Jadi sukacita bukan sekedar perasaan hati, tetapi menunjuk pada kualitas hidup sebagai anugerah Tuhan.
*Pengalaman dibentuk Tuhan melalui berbagai peristiwa, menempa rasul Paulus untuk menghayati seluruh kehidupan kekinian dan masa depannya dari sudut pandang kasih karunia Allah. Itu sebabnya ungkapan dan ajakan “ bersukacitalah di dalam Tuhan“ sesungguhnya menegaskan bahwa hanya oleh kasih karuniaNya/anugerah Allah di dalam Yesus Kristus, seseorang atau selaku persekutuan jemaat dapat mengalami sukacita, meskipun situasi dan kondisi kehidupan secara lahiriah tidak menggambarkan kegembiraan, tetapi dalam iman dan persekutuan dengan Tuhan kesukacitaan dapat terjadi dan dialami (band Fil 1:2 dan Fil 4:4)
*Rasul Paulus, sungguh menyadari masa lalu kehidupannya, yang meskipun dalam ukuran sebagai seorang Yahudi, ia tidak bercacat dalam pelaksanaan HukumTaurat (ayat 4-6), namun untuk semua itu yang dianggapnya sebuah keuntungan, setelah pengenalan akan Tuhan Yesus ( Kisah Para Rasul 9), rasul Paulus menempatkannya sebagai sampah yang sama sekali tidak berguna. Dalam prestasinya sebagai keturunan Yahudi dan konsep kebenarannya sendiri, maka pada akhirnya di hadapan kasih karunia Allah, yaitu Yesus Kristus, rasul Paulus harus mengakui adalah sebuah kerugian, dan karena itu ia harus melepaskan semuanya untuk memperoleh Kristus. Rasul Paulus merindukan bahwa ia pada akhirnya mengalami pengenalan dan persekutuan dengan Yesus Kristus. Berada dalam kebenaran Allah di dalam Yesus Kristus, yang telah datang ke dalam dunia, menderita, mati dan bangkit untuk mengalami kehidupan kekal.
*Keyakinan rasul Paulus atas kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus, memampukannya memandang jauh ke depan kepada kehidupan sebagai “panggilan sorgawi“. Dalam keyakinan itulah, yaitu berangkat dari realitas hidupnya, pengalamannya yang di sebutnya “ditangkap oleh Kristus (ayat 12), rasul Paulus dengan perasaan sukacita dan dengan keberanian mengajak pengikut Kristus di Filipi untuk menjalani kehidupan dan perjuangan dalam kebenaran Allah, yaitu anugerah Allah atau kasih karunia Allah yang dinyatakan dan di proklamirkan oleh Yesus Kristus.
*Ketika nabi Yeremia mengumandangkan pemulihan atas umat Israel yang tercerai berai karena pembuangan di kerajaan Babel, maka Allah sendiri yang akan mengerjakan pemulihan/pembaharuan itu bagi umatNya (bandingkan Yer. 31: 3, 28, 34). Tindakan Allah ini, yang di dasarkan atas anugerahNya merupakan bayangan atau menunjuk kepada diri Allah di dalam Yesus Kristus yang datang ke dalam dunia menyatakan kasihNya, memulihkan dan membahrui kehidupan umatNya. Hanya karena kemurahan Allah, maka manusia dimungkinkan mengalami kehidupan yang baru, hidup dalam sukacita dan pengharapan (bandingkan Yer. 31:10-14 dan kesaksian rasul Paulus tentang kehidupannya yang oleh kemurahan Allah di dalam Yesus Kristus, ia dipulihkan dan mengalami kehidupan baru).
C. Penerapan/aplikasi.
Berada di tahun 2019 ini, menyadarkan kita untuk mengungkapkan syukur dan pujian kepada Allah Bapa kita di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, sebab kita semua telah dipimpinNya menjalani kehidupan dengan segala gumul dan juang di tahun 2018 yang semalam terlewati. Mungkin saja ada peristiwa atau pengalaman yang begitu membekas dalam sanubari kita, sulit terungkap lewat kata-kata, semuanya merupakan bagian dari perjalanan iman kita bersama Kristus, Tuhan kita. Setiap orang tidak dapat lagi kembali ke belakang, ruang dan waktu yang sudah berlalu, yang ada hanyalah kenangannya. Kenangan itu, menjadi bagian yang tak terpisahkan dari visi dan misi hidup kita untuk menjalani hidup lebih bermakna, menentukan pilihan-pilihan berikutnya sebagai persembahan yang layak bagi kemuliaan dan keagungan Sang Maha karya, Allah kita.
Saudara-saudara yang Tuhan Yesus kasihi.
Mengarahkan pandangan ke masa depan atau dengan kata lain, orientasi hidup kita, disertai dengan harapan-harapan atau kerinduan merupakan sesuatu yang wajar. Menempatkannya dalam kuasa dan kasih Tuhan,sebab Dia yang berdaulat atas seluruh kehidupan kita dan setiap rencana kita. Kebenaran firman Tuhan yang kita baca dan renungkan hari ini, menegaskan bahwa Allah saja yang dapat memulihkan kehidupan kita dan membuatnya menjadi baru, sesuai dengan maksudNya. Semua yang Tuhan berkenan titipkan dalam kehidupan kita, selaku pribadi, keluarga, jemaat dan bagi negeri ini, tentu patut kita syukuri. Namun semuanya itu tidak akan pernah menggantikan tempat Allah yang berkuasa atas hidup kita, yang kepadaNya sembah, pujian, hormat dan kemuliaan kita arahkan. Kesadaran ini, tentu berangkat dari karya Allah di dalam Yesus Kristus, yaitu kedatanganNya yang menjadi Juruselamat dunia, anugerah Allah bagi kita, jaminan keselamata dan hidup kekal diberikan kepada kita.
Karena itu, dalam hidup kekinian kita, maka setiap prestasi, setiap kebanggaan pun kehidupan hari ini tidaklah berarti apa-apa, manakala kita berada di luar persekutuan dengan Tuhan (bnd. Yoh. 15:1-8). Bagi rasul Paulus, pengenalanNya akan Tuhan Yesus, kasih karuniaNya yang telah merobah dan membaharui hidupnya adalah hal yang terpenting yang di perolehnya (bnd. “…karena bagiku hidup adalah Kristus… , Fil. 1:21). Keselamatan yang dijaminkan kepada rasul Paulus melampaui semua yang pernah diandalkan dalam hidupnya, khususnya sebagai salah seorang pemimpin agama Yahudi, yang taat.
Saudara-saudara, meskipun kita telah melewati setahun lagi perjalanan dan perjuangan bersama dengan orang-orang yang kita kasihi, di bawah pimpinan kuasa dan kasih Allah, tetapi mungkin kehidupan hari ini dan hari-hari berikutnya di tahun 2019 tidak lebih mudah dari tahun yang sudah terlewati. Ada sekelumit persoalan yang belum nampak titik terang penyelesaiannya (solusinya), kerinduan dan harapan yang seakan terus berlari dari kejaran kita, ataukah ada sesuatu yang baru akan menjemput kita, seiring hari-hari ke depan yang Tuhan masih perkenankan? semuanya masih merupakan misteri. Ya, kehidupan memang adalah misteri (rahasia), tetapi syukur kepada Allah di dalam Tuhan kita Yesus Kristus, karena untuk hari ini dan masa depan, kita dapat menaruh seluruh pengharapan kita kepada Tuhan dan Juruselamat hidup kita. Dialah yang telah datang dalam ruang dan waktu dunia, Allah yang sungguh nyata kehadiranNya, Allah yang memproklamirkan penyertaan dan perlidunganNya di setiap saat kehidupan yang sedang kita jalani dan yang kita tuju ke depan.
Kita semua haruslah meyakini, bahwa dengan keteguhan iman kita serta persekutuan yang karib dengan Sang Pemilik hidup kita akan dimampukan menghalau sikap pesimis atau rasa takut menghadapi situasi hari ini dan besok. Ketika Tuhan Yesus berfirman: "Kesusahan sehari cukuplah sehari (Mat 6:34) Yesus menegaskan tentang betapa Dia berkuasa atas seluruh hidup kita, sehingga kita dapat menjalani setiap hari hidup kita, bagaimanapun kondisinya bersama Dia. Dengan Doa Bapa Kami, Tuhan Yesus mengajarkan kita tentang berkatNya yang cukup untuk HARI INI (Mat 6:11) dan berkat yang juga cukup SETIAP HARI ( Luk 11:3).
Menurut beberapa pendapat bahwa dalam Alkitab ada tertulis kata "jangan takut" sebanyak 365 kali, yang sama dengan jumlah hari dalam satu tahun atau pendapat lain bahwa hanya 124 kata saja kata “jangan takut”, tetapi juga ada kata yang senada yaitu : "jangan kuatir" dan "jangan berkecil hati, Jemaat Tuhan, Entahkah kata itu jumlahnya 365 atau hanya 124 kita tentu tidak menjadikannya acuan untuk tidak merasa takut menjalani kehidupan di dunia ini, sebab kehadiran Allah dalam hidup kita melalui Roh Kudusnya, sangat jelas menunjukkan kuasa penyertaan Tuhan di sepanjang kehidupan yang dipercayakanNya (bnd.Luk. 11:123; Rm 5:5, 2 Kor 1:22).
Ingatlah saudara-saudara, bahwa kita tidak pernah belajar berjalan mundur, tetapi melangkah ke depan, berjalan ke depan bahkan mungkin sesekali berlari. Hidup yang Tuhan percayakan kepada setiap bapak, ibu, saudara dan saudari pun kepada saya, adalah kehidupan yang berjalan ke depan bersama Tuhan kita Yesus Kristus. Sebuah kehidupan yang harus terus berjalan ke depan, berjuang untuk menghasilkan karya yang sarat makna, menyaksikan keagungan dan kemuliaan Tuhan. Kehidupan yang hari ini tentu lebih baik dari kemarin dan besok lebih baik dari hari ini. Firman Tuhan, “ Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan di tambahkan kepadamu.“ ( Mat.6:33). Terpujilah Tuhan dan firmanNya. Amin. (be)
Berikan apresiasi satu kali untuk Khotbah/Renungan ini.