Lewati ke konten utama
Gereja Protestan di Sulawesi Tenggara GEPSULTRA

Khotbah · Khotbah Hari Minggu

Ilalang di antara Gandum

Tidak diketahui · Dipublikasikan 27 Jun 2018

Referensi Alkitab: Matius 13:24-30, 36-43

Tanggal pelayanan/ibadah: 27 Jun 2018

GEPSULTRA

PROLOG :

Perumpamaan yang terdapat dalam Matius 13 ini tentu tidak terlalu asing bagi kita. Apalagi bagi masyarakat agraris, maka soal menabur adalah pekerjaan se-hari hari. Mungkin diantara warga jemaat bukan petani, tapi paling tidak sudah pernah melihat dalam gambar, petani yang sedang menabur benih. Ada beberapa komponen dalam suatu pertanian. Ada petani yang menabur, ada benih yang ditaburkan, ada lahan yang menerima benih yang ditaburkan. Adapun tujuan menabur benih adalah agar benih bertumbuh, menjadi besar dan menghasilkan buah. Dalam praktek menabur itu tentu ada saja kemungkinan yang terjadi. Ada benih yang dimakan burung, ada juga benih yang bertumbuh tapi tidak subur dan tidak menghasilkan buah, ada juga benih yang tumbuh bersama semak duri, lalu mati tergenjet oleh semak duri tersebut, tetapi ada juga benih yang bertumbuh dengan baik dan menghasilkan buah.

PENDALAMAN TEKS / TAFSIRAN TEKS.

Saudara saudara larangan Yesus ( dalam teks ini ) untuk tidak mencabut lalang diantara gandum karena ada kehawatiran jangan - jangan gandum ikut tercabut,…. Tetapi Yesus selanjutnya berkata : Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sama sampai waktu menuai ( ayat 30 ). Perumpamaan lalang dan gandum, Yesus hendak menggambarkan “ orang yang baik dan orang yang tidak baik, atau yang “ baik “ dihadapkan dengan “ tantangan”

Saudara saudara apakah yang kita pahami mengenai tantangan ? Apakah tatangan dilihat sebagai berkat atau justeru malapetakah ? Kalau kita pahami secara sempit dan negatif, maka tantangan adalah malapetaka sebab dilihat sebagai suatu ajakan untuk bertarung atau mengadu kekuatan. Akan tetapi secara positif, tantangan dapat dilihat sebagai sesuatu yang dapat menggugah tekad dan semangat untuk meningkatkan kemampuan dan mengatasi masalah. Zaman globalisasi harus dilihat sebagai tantangan kita untuk meningkatkan sumber daya manusia sehingga kita mampu bersaing dalam berbagai bidang. Gereja termasuk Gepsultra sedang berada dalam tantangan, itu berarti Gereja harus berbenah diri dalam segala segi agar Gereja tetap eksis dalam kancah pertarungan ditenah kehidupan ini.

Setiap orang selalu ada dalam tantangan, apalagi dalam zaman sulit seperti yang sedang kita hadapi bersama. Setiap individu di tantang untuk berbuat sesuatu yang lebih baik dan lebih berguna bagi diri sendiri, Gereja dan juga bagi bangsa. Tuhan Yesus menempatkan Gereja di tengah dunia. Gereja bukan dari dunia, tetapi ada di dunia dengan tugas yang telah digariskan Tuhan. Kehadiran Gereja di dunia menyebabkan adanya pertentangan dengan dunia. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan norma, ukuran dan kriteria yang dipakai dalam hal menilai sesuatu. Perbedaan inilah yang di gambarkan Yesus sebagai “ lalang yang tumbuh bersama gandum “. Saudara saudara dan saya adalah orang orang percaya kepada Yesus dan menjadi pengikut-Nya, bahkan menjalankan misi Kristus, adalah orang orang yang dibenci oleh dunia. Kebencian yang di maksudkan dapat dilihat sebagai suatu tantangan, tapi bukan untuk kita layani dengan kekuatan phisik. Yesus katakan “ jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu “ ( ayat 29 ). Tapi tantangan ini kita pakai untuk mengoreksi diri kita, apakah misi yang kita jalankan adalah misi Kristus, atau misi pribadi kta sendiri ?.

Kemudian bagaimana penampilan kita sebagai pengikut Kristus, apakah kita konsekwen dalam menjalankan tugas panggilan itu, walaupun kita menghadapi tantangan seberat apapun ? Ada kemungkinan kita berkolusi dengan dunia ini, karena tidak mau di benci oleh dunia ini. Tetapi justeru ini yang akan menjadi masalah bagi kita, sebab kita jatuh kepada pesoalan baru, yaitu meningalkan Kristus, dan bercumbu rayu dengan dunia. Tentu saja dunia tertawa dan menawarkan berbagai kemudahan dalam berbagai bentuk. Dan tawaran ini pasti hanya menyenangkan kita seketika saja, dan akan berakhir pada kebinasaan. Tantangan ini harus kita hadapi untuk menjawab panggilan Tuhan dengan mendengarkan dan berpegang teguh pada kebenaran Firman Tuhan.

Terkait dengan maksud Yesus dalam perikob ini, Yesus hendak mengajak pertama tama untuk membedakan antara “ mendengar “ dan “ mendengarkan “. Memang , mendengar bisa saja dilakukan pada waktu sibuk, tetapi untuk mendengarkan lebih memusatkan ke hal yang serius dalam memperhatikan apa yang disampaikan dan memerlukan kosentrasi. Oleh sebab itu pilihan untuk “ mendengarkan “ kehendak-Nya adalah lebih tepat bagi kehidupan dan kebahagiaan kita sebagai umat Tuhan.

Sehubungan dengan perikob pembacaan Firman Tuhan pada hari ini, Yesus memberikan perumpamaan yang dihubungkan dengan pertanian. Terutama jatuhnya benih ke – jenis tanah yang kemudian menghasilkan tuaian atau tidak. Di sini tanah digambarkan sebagai hati manusia. Benih sebagai Firman Tuhan yang ditabur, sedangkan penabur adalah kita orang yang percaya kepada Tuhan. Firman Tuhan berkata, “ Beritakanlah Firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasehatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran ( bdk 2 Timotius 4 : 2 )

Jadi jelas, sebelum kita dapat mendengarkan kehendak-Nya harusnya ada orang yang memberitakan supaya banyak orang mendengar lalu percaya dan beroleh keselamatan dari pada-Nya. Adapun komponen yang terdapat dalam perumpamaan diatas dapat dicatat :

  1. Benih yang jatuh dipinggir jalan dan dimakan burung. Yaitu orang mendengar tetapi tidak mengerti, orang seperti ini adalah mereka yang mendengar sesuatu tetapi tidak mengerti sama sekali. Di antara kitapun pasti ada orang yang demikian, kalau pertemuan sudah selesai dan kita pulang kerumah masing masing ada saja dari kita yang tidak mengerti dan melupakan sama sekali apa Firman Tuhan sampaikan.
  2. Benih yang jatuh di batu batu dan semak duri. Yaitu orang yang mendengar dan menerima dengan gembira namun gampang sekali untuk mundur bila ada kesulitan dan kesenangan dunia yang dialami dan menghimpit imannya kepada Tuhan.
  3. Benih yang jatuh di tanah yang subur. Yaitu orang yang mendengar, melakukan, dan memeliharanya dalam hatinya. Maksudnya, ia mendengar dengan telinga dan hatinya serta mempraktekannya. Sehingga melalui kehidupannya ia boleh menjadi berkat buat orang lain dan banyak jiwa yang dimenangkan bagi Tuhan.

APLIKASI :

Saudara saudara, sekarang pertanyaannya kembali kepada kita apakah kita termasuk orang yang mendengar saja atau orang yang mendengarkan kehendak Tuhan yang bernilai kekal dalam hidup kita. Firman Tuhan yang di beritakan mungkin banyak orang yang terkesan dan mengikuti ajaran Yesus yang di khotbahkan dalam ibadah minggu, keluarga, dan kategorial. Kesan itu amat kuat. Akan tetapi ketika pulang ke rumah dan memasuki aktifitas kerja, dan berjumpa dengan sikap sesama yang tidak baik dan benar. Contohnya, ketika kita datang ke Gereja untuk mengikuti ibadah dan mendengarkan Firman Tuhan yang di beritakan : jangan mencuri. Tentu kita menyetujuinya. Tetapi, karena kita ingin cepat kaya kita abaikan Firman itu. Kita “ menilep” uang negara atau perusahaan, agar tujuan menjadi kaya dapat tercapai. Hal itu dibuat, sebab kta melihat banyak contoh di sekeliling, akhirnya kita berbuat dosa.

Allah menghendaki lalang tumbuh bersama gandum / padi. Disini Allah menghendaki umat-Nya, yakni saudara saudara dan saya berada di dunia ini. Di sana kita di uji : apakah kita setia melakukan kehendak-Nya ataukah kita terpengaruh dengan sikap sesama. Memang kita akan selalu hidup berdampingan dengan orang jahat dan baik. Namun kita tak perlu menjadi sama dengan mereka. Amin.(SYR)

Apresiasi pembaca

Berikan apresiasi satu kali untuk Khotbah/Renungan ini.

Cari dalam kanal Khotbah

Tulisan Terkait

Khotbah

Khotbah HUT GEPSULTRA ke-62

Saudara-saudara yang Tuhan Yesus kasihi, Hari ini 10 Pebruari 2019 Gereja Protestan di Sulawesi Tenggara (GEPSULTRA) berulang tahun, genap berusia 62 tahun. Karena…

Renungan

Masa Depan Tetap Ada

Sidang jemaat yang kekasih didalam Tuhan, masa depan adalah kenyataan yang pada suatu saat menjadi masa kini dan bagi umat Tuhan masa depan berpusat kepada Yesus Kristus…

Renungan

Mengarah ke Masa Depan

Meninggalkan sesuatu yang merupakan keharusan, tentu tidak mudah apalagi dengan semua kenangannya. Tetapi yang pasti, bahwa selalu ada hal yang patut untuk di renungkan…

Khotbah

Pembaharuan dalam Hidup Bersama

Firman Tuhan yang datang menyapa kita di pagi hari ini sungguh sangat indah. Nikmat rasanya! Saya pun sangat menikmatinya disaat saya membacanya. Saya berharap…