Khotbah · Khotbah Hari Minggu
Cerdik dan Tulus
Referensi Alkitab: Matius 10:16-33
Tanggal pelayanan/ibadah: 20 Jun 2018

Sidang jemaat yang terkasih, tugas pengutusan dan kesaksian yang dipercayakan Tuhan Yesus kepada murid murid-Nya ternyata bukanlah tugas yang ringan. Dalam ayat 16 - 20 menceritrakan bagaimana Yesus memilih 12 0rang murid dan kemudian mengutus mereka untuk melayani. Tugas tersebut memiliki tingkat resiko yang cukup tinggi karena murid murid akan berhadapan dengan kekuatan kekuatan yang luar biasa yang siap menghancurkan. Untuk menyiasati tugas kesaksian dan pengutusan, Tuhan Yesus memberi pesan dalam ayat 16 dengan mengatakan “ lihat “ Aku mengutus kamu seperti domba di tengah tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati “.
Pesan Yesus ini pertama tama bahwa utusan injil itu sama seperti domba yang diutus di tengah tengah serigala. Domba terkenal dengan kepolosannya, tidak memiliki senjata sehingga sering menjadi mangsa binatang buas, dan yang paling utama adalah pengorbanannya, sama seperti yang disaksikan oleh Yesaya. Yesaya menggambarkan Mesias penyelamat itu adalah Mesias yang rela berkorban hingga mati seperti domba yang turut saja ketika dibawa ke penyembelian. Yesaya mengatakan : Dia dianiya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulut-Nya . Seperti anak domba dibawa kepembantaian, seperti induk domba yang kelu didepan orang orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulut-Nya ( Yesaya 53 : 7 ). Domba diutus di tengah tengah serigala. Apa saudara saudara tahu serigala ? serigala adalah binatang pemakan daging, mempunyai asal usul yang sama dengan anjing, mempunyai tinggi kurang lebih 60 - 80 cm senang berburu pada malam hari, dan memiliki lolongan yang menyeramkan. Saudara saudara bisa bayangkan perbedaan antara domba dan serigala. Serigala dalam teks ini berhubungan dengan kondisi dunia yang tidak nyaman, menakutkan dan bisa memangsa para utusan injil tsb.
Untuk menghadapi keadaan inilah maka Yesus mengatakan agar mereka; sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Bertolak dari perkataan Yesus ini, ternyata Yesus lebih memilih agar para murid itu memilih : cerdik, bijaksana, awas diri seperti ular dan memilih hati yang bersih tulus serta bergantung pada Tuhan dan mengandalkan damai. Itu lebih berguna dari pada mati konyol. Atau menjadi sama dengan serigala untuk melawan serigala. Tentu ini amat mengerikan kalau orang Kristen menjadi sama dengan serigala, maka kita akan menjadi buas kepada bahkan sesama, terlarut dikegelapan seperti serigala yang hidup dan berkarya di kegelapan malam.
Saudara saudara dalam ayat 17 - 21 Yesus menjelaskan apa yang dimaksudkan-Nya, disini dimaksudkan bahwa dunia sama dengan serigala. Mari kita perhatikan apa yang dikatakan Yesus “ tetapi waspadalah terhadap semua orang, karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah rumah ibadatnya. Dan karena Aku, kamu akan digiring kemuka penguasa penguasa dan raja raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang orang yang tidak mengenal Allah “ Disini Yesus hendak denga tegas menunjukkan bahwa “ serigala “ itu adalah mereka mereka yang mempergunakan mahkama agama sebagai ruang pembantaian. Terlebih lagi kalau mahkama agama bersatu dengan raja raja dan penguasa . Kalau kita melihat kondisi dari Negara kita, langsung atau tidak langsung sudah sedang menuju pada kondisi ini, dimana sekelompok manusia sangat kuat berusaha agar mahkama agama menjadi sarana pengadilan. Kelompok yang ingin menjadikan agama menjadi dasar Negara. Tentu ini sangat mengerikan, apalagi kalau Negara seperti sekarang ini diam dan membiarkan bahkan merestui itu terjadi maka Indonesia akan berubah dari panggung demokrasi ke panggung tirani, dimana agama tertentu akan menjadi hakim bagi agama agama lain yang minoritas.
Memang benar bahwa tugas pengutusan dan kesaksian memiliki ancaman yang luar biasa. Hal ini tidak hanya dirasakan oleh murid murid Yesus pada waktu itu, tetapi juga dialami oleh setiap orang percaya pada segala waktu dan tempat. Anehnya, semakin kegiatan pengutusan dan kesaksian ini ditekan, maka semakin maju injil disampaikan. Buktinya adalah kegiatan pekabaran injil tetap berjalan sampai saat ini dan Gereja tetap hadir pada segala waktu dan tempat sekalipun pada kenyataannya Gereja mengalami penganiayaan dan peghancuran. Bukankah ini menunjukkan bahwa jaminan yang diberikan Tuhan Yesus adalah jaminan yang sempurna, hingga seberat apapun tekanan yang harus dihadapi oleh orang percaya dan Gereja, kesaksian dan pengutusan tetap berjalan. Sekalipun tugas pengutusan dan kesaksian memiliki ancaman yang luar biasa, itu bukan berarti bahwa orang percaya menerima nasib tanpa dapat berbuat apapun.
Menyimak tanggung jawab pengutusan dan kesaksian yang adalah bagian kehidupan orang percaya, tentunya kita perlu belajar dari pengalaman bapak bapak Gereja pada abad abad permulaan dimana mereka harus berjuang untuk tetap mempertahankan jati diri sekalipun yang mereka hadapi bukan lagi ancaman tetapi kenyataan bahwa penganiayaan dan kematian menanti mereka.
Jadi konteks yang dikatakan Yesus itu tidak jauh dari kondisi kita bahkan sangat dekat dan mungkin saja kita akan berada dalam situasi gereja mula mula. Dalam konteks ini kemudian mncul pertanyaan bagi kita, apakah relevansi dari pesan yang diungkapkan Yesus agar kita cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Ada 4 hal yang perlu kta ingat dari pesan Yesus ini :
1.Biarlah kita tetap menjadi seekor domba yang cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Seekor domba yang rela berkorban, bahkan mengorbankan nyawanya. Tentu ini adalah hal yang tersulit kalau harus berkorban demi Yesus ? Tetapi bila hal ini benar benar nyata dan langsung dialami, banyak orang yang akhirnya saling menyalahkan seperti yang dikatakan dalam ayat 21, bahwa antara ayah dan anak antara adik dan abang bisa saling membunuh. Tetapi itulah konsekuensi menjadi seorang Kristen. Namun tidak perlu takut karena Allah akan menjadi pembela kita ( ayat 19 ).
2.Sangat sering orang meninggalkan agamanya dan menjadi serigala karena tuntutan situasi. Meninggalkan jati diri dan memasuki dunia buas didalam kegelapan. Bisa saja seseorang menjadi koruptor kekuasaannya atas hawa nafsu yang tak tertahankan, sehingga tidak Nampak lagi identitas Kristen dalam gaya hidupnya.
3.Meniru merpati yang tidak pernah berkelahi tetapi selalu damai, bisa dipercaya seperti merpati pos ( selalu tertuju pada tujuannya dan juga selalu mengingat untuk pulang ke asalnya ), selalu mengandalkan Tuhan ( merpati dapat merekam wilayah wilayah yang dituju dengan mengandalkan posisi bintang dilangit ). Orang percaya harus seperti itu selalu mengingat untuk kembali pulang ke rumah Bapa dan senantiasa memohon petunjuk Tuhan dalam setiap perkara kehidupannya.
4.Pengorbanan dalam kecerdikan dan ketulusan berarti juga sebagai orang Kristen di tengah tengah serigala = dunia harus bermoral, baik dan bisa dipercaya. Kalau seandainya serigala itu pintar, maka setiap orang percaya juga harus lebih pintar, lebih baik, minimal duakali lipat. Karena hanya dengan demikian setiap orang Kristen/ percaya bisa bertahan dan akan mempengaruhi, bukan justru dipengaruhi. Karena itu kalau kita setia, walau pahit getir, penuh perjalanan terjal dan licin, maka kita akan mendapatkan anugerah Tuhan yang tidak pernah terbayangkan oleh kita.
Tetapi saudara saudara yang masih menjadi persoalan bagi kita sebagai orang percaya yang hidup pada masa kini adalah, apakah kita mau memberi diri dan hidup ini untuk kelangsungan tugas pengutusan dan kesaksian tersebut ? Bukankah kita seringkali memberi pertimbangan ini dan itu karena kita tahu bahwa resiko yang harus kita hadapi sungguh berat. Tetapi meskipun kita tahu bahwa ada resiko yang harus kita terima karena pengakuan percaya kita, namun kita juga harus percaya bahwa Dia tidak akan pernah meninggalkan kita. Didalam janji-Nya kita menunaikan tanggung jawab pengutusan dan kesaksian itu, sebab itu, jadilah seorang Kristen yang setia dan tangguh. Amin.(SYR)
Berikan apresiasi satu kali untuk Khotbah/Renungan ini.