Lewati ke konten utama
Gereja Protestan di Sulawesi Tenggara GEPSULTRA

Khotbah · Khotbah Hari Minggu

Jangan Meninggikan Diri

Tidak diketahui · Dipublikasikan 08 Jun 2018

Referensi Alkitab: Lukas 14:7-14

Tanggal pelayanan/ibadah: 08 Jun 2018

GEPSULTRA

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus...

Dalam era global dewasa ini, orang cenderung menjadi individualistis (semakin mementingkan diri sendiri) yang melahirkan sikap tamak, serakah dan mau menang sendiri. Nilai-nilai kekerabatan, kekeluargaan bahwa kaidah agama dan hukum cenderung direlatifkan (kurang diperhatikan). Harta, tahta, kejayaan dan kesenangan pribadi menjadi fokus setiap orang. Kesombongan menjadi ciri manusia dewasa ini.

Melalui pembacaan kita hari ini Tuhan Yesus dalam kehadiran-Nya di tengah-tengah manusia memberi perhatian penting terhadap bahaya kesombongan. Sebab kesombongan menyebabkan hubungan manusia dengan Allah bukan semakin dekat melainkan semakin jauh dan rusak.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus...

Penjelasan Yesus ini diharapkan mendapat tempat dalam hati pendengarnya atau paling kurang memahami siapa Yesus. Sambutan Yesus sebagai nasihat bagi mereka harus menjadikan mereka merubah pola pikir yang mau menang sendiri, mereka harus bijaksana, rendah hati dan bertanggung jawab.

Perikop Lukas 14:7-14 berbicara soal kerendahan hati dan keramatamahan terhadap sesama, terutama mereka yang lemah dan rendah. Perjamuan makan dengan mengundang tamu merupakan kegiatan sosial yang penting dalam kehidupan masyarakat Yahudi. Dalam kegiatan itu para undangan dari status sosial yang saa hadir dan berbagi ide-ide dan pemikiran-pemikiran mereka. Status dan kedudukan para undangan dalam perjamuan itu tampak lewat lokasi tempat duduk mereka. Ada dua hal yang penting dalam pengajaran Yesus pada perikop ini.

Pada bagian pertama, Yesus melihat kondisi yang kurang baik terjadi di dalam perjamuan makan tersebut. Orang berebut untuk duduk ditempat-tempat terhormat, biasanya dekat dengan tuan rumah, demi mendapatkan penghormatan dari-orang-orang yang hadir dalam perjamuan itu. Yesus kemudian memulai nasihat-Nya dengan sebuah perumpamaan, untuk mengingatkan mereka yang berebut tempat terhormat itu, tentang sebuahkenyataan sederhana bahwa ada kemungkinan mereka diminta untuk pindah ke tempat yang lebih rendah bila tamu yang lebih terhormat datang. Sudah menjadi kebiasaan, tamu-tamu kehormatan datang paling akhir. Bila hal itu terjadi, orang yang semulamenduduki tempat-tempat terhormat itu akan diminta pindah, sementara sebagian besar tempat duduk sudah terisi sehingga ia hanya kan mendapat tempat dibagian paling pinggir, dan tentunya hal itu akan mempermalukan mereka di hadapan banyak orang. Apa yang Yesus ingatkan ini dapat ditemukan kesamaannya dalam banyak literatur Yahudi (termasuk Amsal 25:6-7) dan Yahudi-Romawi. Namun, kemudian tampak perbedaannya ketika Yesus berkata, "Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan" Luk. 14:11). Perkataan Yesus ini kerap disebut sebagai "polar leversal", atau pembalikan kutub. Pembalikan kedudukan ini akan menimpa orang yang meninggikan diri (karena ia kan direndahkan), sebaliknya juga terjadi bagi orang yang merendahkan diri (karena ia akan ditinggikan atau dihormati). Melalui pengajaran ini, Yesus mendorong seseorang untuk punya kerendahan hati, tidak menonjolkan diri, karena orang yang rendah hati itu akan ditinggikan Allah dan dihormati sesama.

Dibagian kedua, Yesus menasihati orang-orang yang hadir dalam perjamuan makan tersebut dengan nasihat soal siapa yang patut diundang dalam sebuah perjamuan. Lazimnya, sang tuan rumah akan mengundang orang-orang yang sama status sosialnya dengan dirinya, atau orang-orang yang dekat dengan dirinya: tema, keluarga atau tetangganya yang kaya. Dan, menjadi kebiasaan apabila mereka kemudian saling membalas mengundang dalam perjamuan makan selanjutnya. Namun, dalam pengajaran-Nya, Yesus justru menyampaikan sesuatu yang amat berbeda, yaitu meminta mereka mengundang orang dari kelas sosial yang berbeda, yang tidak akan mampu membalas undangan mereka. Menurut Yesus, undangan ikut makan sebaiknya ditujukan kepada orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh, dan orang-orang buta. Mereka ini adalah kaum lemahdan tersisih dalam tatanan masyarakat Yahudi, khususnya kaum Farisi. Mereka sering dicap sebagai kaum yang tidak diberkati Allah, sehingga tidak layak diundang dalam pertemuan-pertemuan umat Yahudi, termasuk perjamuan makan. Yang menjadi pokok dalam bagian ini adalah bahwa seseorang akan diadili Allah berdasarkan sikapnya terhadap orang lain.

Sekali lagi, perspektif Yesus berbeda dengan orang-orang Yahudi pada umumnya. Justru terhadap mereka yang lemah dan tersisih itulah, undangan perjamuan makan seharusnya diberikan. Dengan kata lain, hospitalitas atau keramahtamahan menerima tamu ditujukan bukan hanya kepada mereka yang dekat dan sama status sosialnya, tetapi juga bagi mereka yang berbeda dan lemah. Mereka yang peduli, dan dengan penuh kemurahan hati memerhatikan orang-orang lemah dan tersisih ini, akan disebut berbahagia. Berbahagia bukan karena mereka sanggup membalas kemurahan tersebut, karena mereka yang lemah itu pasti tidak akan mampu membalasnya. Berbahagia, karena mereka akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar, saat mereka diundang dalam perjamuan Kerajaan Allah.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus...

Apa yang disampaikan oleh Tuhan Yesus ini merupakan penegasan bahwa hidup orang percaya harus dijalani dengan bijaksana, rendah hati dan bertanggungjawab. Sikap merendah diri haruslah menjadi sifat semua orang Kristen karena sifat ini adalah juga ciri khas kehidupan kristiani.

Yesus mengajar kita untuk rendah hati, bahkan Petrus mengingatkan (1 Petr. 5) "Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihi orang yang rendah hati. Karena itu rendahkanlah dirimu dibawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya." (EB)

Apresiasi pembaca

Berikan apresiasi satu kali untuk Khotbah/Renungan ini.

Cari dalam kanal Khotbah

Tulisan Terkait

Khotbah

Khotbah HUT GEPSULTRA ke-62

Saudara-saudara yang Tuhan Yesus kasihi, Hari ini 10 Pebruari 2019 Gereja Protestan di Sulawesi Tenggara (GEPSULTRA) berulang tahun, genap berusia 62 tahun. Karena…

Renungan

Masa Depan Tetap Ada

Sidang jemaat yang kekasih didalam Tuhan, masa depan adalah kenyataan yang pada suatu saat menjadi masa kini dan bagi umat Tuhan masa depan berpusat kepada Yesus Kristus…

Renungan

Mengarah ke Masa Depan

Meninggalkan sesuatu yang merupakan keharusan, tentu tidak mudah apalagi dengan semua kenangannya. Tetapi yang pasti, bahwa selalu ada hal yang patut untuk di renungkan…

Khotbah

Pembaharuan dalam Hidup Bersama

Firman Tuhan yang datang menyapa kita di pagi hari ini sungguh sangat indah. Nikmat rasanya! Saya pun sangat menikmatinya disaat saya membacanya. Saya berharap…