TERBARU
Kabar Pelayanan
Sorotan Berita
Kabar dan cerita terbaru dari pelayanan GEPSULTRA
Berita Terbaru
TERBARU
TERBARU
Nahkoda baru bahtera Gereja Protestan di Sulawesi Tenggara (Gepsultra) periode 2016-2021
Baca SelengkapnyaBahan Iman
Khotbah & Renungan Terbaru
Bahan pelayanan dan refleksi iman terbaru dari kanal Khotbah GEPSULTRA
Khotbah
Khotbah HUT GEPSULTRA ke-62
Saudara-saudara yang Tuhan Yesus kasihi, Hari ini 10 Pebruari 2019 Gereja Protestan di Sulawesi Tenggara (GEPSULTRA) berulang tahun, genap berusia 62 tahun. Karena itulah sebagai warga gereja dan Jemaat, kita memuliakan nama Tuhan dan bersyukur deng
Baca Selengkapnya
Renungan
Masa Depan Tetap Ada
Sidang jemaat yang kekasih didalam Tuhan, masa depan adalah kenyataan yang pada suatu saat menjadi masa kini dan bagi umat Tuhan masa depan berpusat kepada Yesus Kristus yang adalah Firman, melalui iman dan pengharapan
Baca Selengkapnya
Renungan
Mengarah ke Masa Depan
Meninggalkan sesuatu yang merupakan keharusan, tentu tidak mudah apalagi dengan semua kenangannya. Tetapi yang pasti, bahwa selalu ada hal yang patut untuk di renungkan dan dimaknai ulang. Sesuatu tersebut entahkah dalam bentuk kesedihan, kemalangan,
Baca Selengkapnya
Khotbah
Pembaharuan dalam Hidup Bersama
Firman Tuhan yang datang menyapa kita di pagi hari ini sungguh sangat indah. Nikmat rasanya! Saya pun sangat menikmatinya disaat saya membacanya. Saya berharap saudara-saudara dapat menikmatinya pula. Mengapa saya katakan demikian! Lalu mengapa pula
Baca SelengkapnyaProfil & Identitas
Sejarah GEPSULTRA
Karya pekabaran Injil kini telah menjadi buah iman yang terwujud dalam persekutuan Gereja Tuhan di Sulawesi Tenggara. Perjalanan kelembagaan persekutuan Gereja Tuhan di Sulawesi Tenggara diawali pada tahun 1950 dengan rencana pelaksanaan Sidang Sinode I tetapi yang kemudian batal dilaksanakan karena terjadi pembunuhan atas Ds. G.W. Mollema dan Ds. F.B. Powatu bersama beberapa tokoh Gereja di Wilayah Moronene. Walaupun demikian, persiapan Sidang Sinode I itu tetap berjalan dan pada tahun 1952 dibentuk Badan Pekerja Bakal Gereja di Sulawesi Tenggara.
Pada tanggal 10 Pebruari 1953 di Bau-Bau diadakan serah terima milik zending dan tanggungjawab kepengurusan gereja dari Ds.R.C. Vleeming (wakil dari NHK) kepada Badan Pengurus Bakal Gereja di Sulawesi Tenggara di hadapan Notaris Kepala Pemerintahan Daerah Sulawesi Tenggara, Bapak Marzuki Marala setelah itu Ds. R.C. Vleeming kembali ke Belanda sebagai tenaga zending terakhir.
Sidang Sinode I dilaksanakan di Kendari pada Tanggal 7-10 Pebruari 1957. Sidang Sinode I ini kemudian melahirkan ???????Gereja Kristen di Sulawesi Tenggara??????? yang disingkat GKSTa dengan komposisi personalia kepengurusan yang disebut dengan Badan Pekerja Sinode (BPS) sebagai berikut :
Tetapi salah satu masalah saat itu adalah keadaan keuangan yang sangat sulit yang antara lain diperuntukkan bagi jaminan hidup Pendeta/pelayan. Tahun 1958 dimana usia GKSTa baru setahun. Kantor Pusat/Kantor BPS-GKSTa di Lambuya dibakar oleh gerombolan DI/TII. Para pemimpin dan warga gereja tercerai berai sehingga Kantor Pusat/Kantor BPS-GKSTa terpaksa dipindahkan ke Kendari
Hingga saat ini GEPSULTRA telah melaksanakan 17 kali Sidang Sinode yang telah menghasilkan keputusan keputusan penting dalam rangka program pelayanan dan partisipasi GEPSULTRA dalam pembangunan daerah Sulawesi Tenggara. Salah satu keputusan penting adalah perubahan nama singkatan GKSTa menjadi GEPSULRA ( sidang sinode IV ) dan berubah menjadi GEPSULTRA ( sidang sinode V )
Karya pekabaran Injil kini telah menjadi buah iman yang terwujud dalam persekutuan Gereja Tuhan di Sulawesi Tenggara. Perjalanan kelembagaan persekutuan Gereja Tuhan di Sulawesi Tenggara diawali pada tahun 1950 dengan rencana pelaksanaan Sidang Sinode I tetapi yang kemudian batal dilaksanakan karena terjadi pembunuhan atas Ds. G.W. Mollema dan Ds. F.B. Powatu bersama beberapa tokoh Gereja di Wilayah Moronene. Walaupun demikian, persiapan Sidang Sinode I itu tetap berjalan dan pada tahun 1952 dibentuk Badan Pekerja Bakal Gereja di Sulawesi Tenggara.
Pada tanggal 10 Pebruari 1953 di Bau-Bau diadakan serah terima milik zending dan tanggungjawab kepengurusan gereja dari Ds.R.C. Vleeming (wakil dari NHK) kepada Badan Pengurus Bakal Gereja di Sulawesi Tenggara di hadapan Notaris Kepala Pemerintahan Daerah Sulawesi Tenggara, Bapak Marzuki Marala setelah itu Ds. R.C. Vleeming kembali ke Belanda sebagai tenaga zending terakhir.
Sidang Sinode I dilaksanakan di Kendari pada Tanggal 7-10 Pebruari 1957. Sidang Sinode I ini kemudian melahirkan ???????Gereja Kristen di Sulawesi Tenggara??????? yang disingkat GKSTa dengan komposisi personalia kepengurusan yang disebut dengan Badan Pekerja Sinode (BPS) sebagai berikut :
Tetapi salah satu masalah saat itu adalah keadaan keuangan yang sangat sulit yang antara lain diperuntukkan bagi jaminan hidup Pendeta/pelayan.
SelengkapnyaKarya pekabaran Injil kini telah menjadi buah iman yang terwujud dalam persekutuan Gereja Tuhan di Sulawesi Tenggara. Perjalanan kelembagaan persekutuan Gereja Tuhan di Sulawesi Tenggara diawali pada tahun 1950 dengan rencana pelaksanaan Sidang Sinode I tetapi yang kemudian batal dilaksanakan karena terjadi pembunuhan atas Ds. G.W. Mollema dan Ds. F.B. Powatu bersama beberapa tokoh Gereja di Wilayah Moronene. Walaupun demikian, persiapan Sidang Sinode I itu tetap berjalan dan pada tahun 1952 dibentuk Badan Pekerja Bakal Gereja di Sulawesi Tenggara.
Pada tanggal 10 Pebruari 1953 di Bau-Bau diadakan serah terima milik zending dan tanggungjawab kepengurusan gereja dari Ds.R.C. Vleeming (wakil dari NHK) kepada Badan Pengurus Bakal Gereja di Sulawesi Tenggara di hadapan Notaris Kepala Pemerintahan Daerah Sulawesi Tenggara, Bapak Marzuki Marala setelah itu Ds. R.C. Vleeming kembali ke Belanda sebagai tenaga zending terakhir.
SelengkapnyaKEPEMIMPINAN SINODE
BPMS GEPSULTRA
Badan Pekerja Majelis Sinode GEPSULTRA Periode 2016–2021